Drabbel - Vira Rindu

“Astaga Vira....” Dini berbalik, melotot padaku, mengibas-ngibas lembaran-lembaran puisiku, melangkahkan kakinya menuju ke arahku yang terperanjat karena jeritannya  “Dari ribuan puisi yang lo buat, intinya itu cuma satu” Aku hanya terdiam, terintimidasi pelototannya, di tambah lagi dengan posisiku lebih rendah yang terduduk di pinggir ranjang, jarak sedekat ini pelototannya benar2 terasa menyeramkan.

“Lo rin-du. Lo kangen, lo kangen dia kan?” ucapnya tanpa melonggarkan jarak kami. Padahal aku sudah mulai gerah di todong pertanyaan “Lo kangen dia kan?”.

Aku berbalik enggan bertatapan “Apaan sih, itu Cuma puisi biasa. Sama kaya puisi2 gue yang lain, gak ada maksud apa—“


“Udah deh, lo gak usah—“


“Eh, Vira. Vira tunggu, lo mau kemana gue belum selesai yah”


Aku beranjak pergi meninggalkan Dini, tidak memperdulikan teriakannya. “Mau ngambil air. Haus” teriakku, memonyongkan bibirku saat mengucap kata haus. Meninggalkan Dini dengan perasaan kesal akibat kelakuanku.   

Comments

Popular posts from this blog

Rindu Yang Sesungguhnya

Bodohkah Aku?

Rindu Yang Di Batasi