Posts

Showing posts from August, 2018

Drabbel - Vira Rindu

“Astaga Vira....” Dini berbalik, melotot padaku, mengibas-ngibas lembaran-lembaran puisiku, melangkahkan kakinya menuju ke arahku yang terperanjat karena jeritannya   “Dari ribuan puisi yang lo buat, intinya itu cuma satu” Aku hanya terdiam, terintimidasi pelototannya, di tambah lagi dengan posisiku lebih rendah yang terduduk di pinggir ranjang, jarak sedekat ini pelototannya benar2 terasa menyeramkan. “Lo rin-du. Lo kangen, lo kangen dia kan?” ucapnya tanpa melonggarkan jarak kami. Padahal aku sudah mulai gerah di todong pertanyaan “Lo kangen dia kan?”. Aku berbalik enggan bertatapan “Apaan sih, itu Cuma puisi biasa. Sama kaya puisi2 gue yang lain, gak ada maksud apa—“ “Udah deh, lo gak usah—“ “Eh, Vira. Vira tunggu, lo mau kemana gue belum selesai yah” Aku beranjak pergi meninggalkan Dini, tidak memperdulikan teriakannya. “Mau ngambil air. Haus” teriakku, memonyongkan bibirku saat mengucap kata haus. Meninggalkan Dini dengan perasaan kesal akibat kelakuanku.   ...

Aku (tak) Menyukaimu!

Sungguh tak ingin berharap. Tapi aku tak mampu. Mencoba apatis. Namun hati berteriak, mengharap mu. Sungguh aku tak ingin berharap. Pada hal yang tak seharusnya kuharapkan. Bagaimana menghapusnya? Kau tuliskan indahnya senja itu. Dan, saat senja datang, aku terus saja mengingatmu. Aku tak menyukaimu, aku yakin itu. Hanya sukai setiap kata, yang kau rangkai itu. Hanya sukai cara mu, memandang dunia ini. Bagaimana mungkin menyukaimu. Melihatmu saja tak pernah. Bagaimana mungkin melihatmu. Ratusan kilo meter membatasi. Kau di timur ku di barat. Tapi apa ku bisa berharap? Berharap bertemu. Berharap berbincang. Berharap berteman denganmu. Bila kau membacanya jawablah.. Apa bisa? Benarkah? Pantaskah ku? Bila bandingkan, aku hanya debu di bawah telapak kakimu. Tak terlihat, Tak berharga, Tak ada apa2nya, Mungkin mengganggu..

Penyesalan Sang Pendosa

Dulu aku pernah berprasangka sangat buruk pada sahabatku. Menjadi orang yang sangat bebal untuk diajak menjadi lebih baik. Lalu dengan hinanya aku malah mengejek ia sok suci dan sok baik... Dimana akal sehatku saat itu.. Kutepis postingan-postingan kebaikannya meski pada saat itu aku merasa benar-benar tersindir, dan tak bisa menyangkal bahwa postingan itu benar. Nasihat-nasihat terselubungnya hanya ku anggap sebagai angin lalu. Ajakan-ajakan kebikannya tak pernah ku hiraukan, aku lebih memilih bersenang-senang dengan teman-temanku yang lain. Kini ku tahu ia telah lelah.. Lelah menarikku sedang aku menarik diri berlawanan arah.. Kini ku telah tergantikan.. Ia telah memiliki seseorang yang lebih baik dariku, yang se-misi dan se-visi dengan dirinya. Ia tak perlu bersusah payah menarikku lagi, karena kini yang ku lihat mereka saling menarik satu sama lain, tuk menjadi lebih baik.. Ia pergi meninggalkanku, bersama teman-teman yang hadir dikala ku sedang senang saja....