Posts

Rindu Yang Di Batasi

Rindu yang di batasi Rindu datang dengan sendirinya, Tanpa dipaksa tanpa juga dibuat-buat. Perbincangan kita semakin terasa aneh. Seperti ingin berkomunikasi tetapi membatasi diri. Entah apa yang dibatasi. Mungkin kau takut dirimu semakin jatuh, atau kau takut diriku semakin jatuh. Atau mungkin aku yang takut aku semakin jatuh, atau aku takut dirimu semakin jatuh. Kita terlalu takut sehingga obrolan kita tidak lepas, tidak seperti biasanya. Seperti dua orang perindu yang saling ingin menuang rindu. Namun saling membatasi diri. Agar kelak tak semakin merindu. Untuk apa mencegah rindu? Toh, rindu datang dengan sendirinya, tanpa dipaksa tanpa juga dibuat-buat.

Rindu Yang Sesungguhnya

Dulu yang ku tau, rindu adalah saat kita tak bertemu di sekoah atau saat datang musim liburan sekolah. Tetapi ternyata, rindu yang ku rasa saat itu sepertinya bukan rindu sungguhan. Karna rinduku saat ini. Lebih sesak dari sesak yang pernah ku rasakan. Lebih menyakitkan dari sakit yang pernah ku rasakan. Lebih dari sekedar rindu yang pernah kurasakan semasa sekolah dulu. Ingin kembali pulang, tetapi tak tau jalan pulang. Aku tersesat sendirian, hanya rindu dan kesendirian yang menemani.

Syukur Ku - Satu

Tak ada yang lebih baik dalam membuat takdir, selain dzat maha adil penggenggam semesta.. Keadilannya sangat amat patut ku syukuri.. Ya Allah ya robb.. Terimakasih telah memberi bahagia ini.. Di samping kesedihan yang tak mampu ku obati dan ku bagi..

Mengapa Suka Membaca - Satu

Alasan ku suka membaca buku karna membaca mampu sedikit mengalihkan permasalahan dalam hidupku. Saat suara gaduh bersahutan di ruangan samping kamarku, ingin berteriak henti namun tak mampu. Ingin menangis, rasanya mata ini telah lelah mengeluarkan air mata. Pengalihanku hanyalah berkurung di kamar tidurku sambil membaca buku. Bukan aku apatis atas apa yang terjadi, namun aku telah lelah dan bingung harus berbuat apa. Saat ini aku sangat bersyukur memilih buku menjadi pelarianku.. Terima kasih ya rabb...

Drabbel - Vira Rindu

“Astaga Vira....” Dini berbalik, melotot padaku, mengibas-ngibas lembaran-lembaran puisiku, melangkahkan kakinya menuju ke arahku yang terperanjat karena jeritannya   “Dari ribuan puisi yang lo buat, intinya itu cuma satu” Aku hanya terdiam, terintimidasi pelototannya, di tambah lagi dengan posisiku lebih rendah yang terduduk di pinggir ranjang, jarak sedekat ini pelototannya benar2 terasa menyeramkan. “Lo rin-du. Lo kangen, lo kangen dia kan?” ucapnya tanpa melonggarkan jarak kami. Padahal aku sudah mulai gerah di todong pertanyaan “Lo kangen dia kan?”. Aku berbalik enggan bertatapan “Apaan sih, itu Cuma puisi biasa. Sama kaya puisi2 gue yang lain, gak ada maksud apa—“ “Udah deh, lo gak usah—“ “Eh, Vira. Vira tunggu, lo mau kemana gue belum selesai yah” Aku beranjak pergi meninggalkan Dini, tidak memperdulikan teriakannya. “Mau ngambil air. Haus” teriakku, memonyongkan bibirku saat mengucap kata haus. Meninggalkan Dini dengan perasaan kesal akibat kelakuanku.   ...

Aku (tak) Menyukaimu!

Sungguh tak ingin berharap. Tapi aku tak mampu. Mencoba apatis. Namun hati berteriak, mengharap mu. Sungguh aku tak ingin berharap. Pada hal yang tak seharusnya kuharapkan. Bagaimana menghapusnya? Kau tuliskan indahnya senja itu. Dan, saat senja datang, aku terus saja mengingatmu. Aku tak menyukaimu, aku yakin itu. Hanya sukai setiap kata, yang kau rangkai itu. Hanya sukai cara mu, memandang dunia ini. Bagaimana mungkin menyukaimu. Melihatmu saja tak pernah. Bagaimana mungkin melihatmu. Ratusan kilo meter membatasi. Kau di timur ku di barat. Tapi apa ku bisa berharap? Berharap bertemu. Berharap berbincang. Berharap berteman denganmu. Bila kau membacanya jawablah.. Apa bisa? Benarkah? Pantaskah ku? Bila bandingkan, aku hanya debu di bawah telapak kakimu. Tak terlihat, Tak berharga, Tak ada apa2nya, Mungkin mengganggu..

Penyesalan Sang Pendosa

Dulu aku pernah berprasangka sangat buruk pada sahabatku. Menjadi orang yang sangat bebal untuk diajak menjadi lebih baik. Lalu dengan hinanya aku malah mengejek ia sok suci dan sok baik... Dimana akal sehatku saat itu.. Kutepis postingan-postingan kebaikannya meski pada saat itu aku merasa benar-benar tersindir, dan tak bisa menyangkal bahwa postingan itu benar. Nasihat-nasihat terselubungnya hanya ku anggap sebagai angin lalu. Ajakan-ajakan kebikannya tak pernah ku hiraukan, aku lebih memilih bersenang-senang dengan teman-temanku yang lain. Kini ku tahu ia telah lelah.. Lelah menarikku sedang aku menarik diri berlawanan arah.. Kini ku telah tergantikan.. Ia telah memiliki seseorang yang lebih baik dariku, yang se-misi dan se-visi dengan dirinya. Ia tak perlu bersusah payah menarikku lagi, karena kini yang ku lihat mereka saling menarik satu sama lain, tuk menjadi lebih baik.. Ia pergi meninggalkanku, bersama teman-teman yang hadir dikala ku sedang senang saja....